KOTA TANGERANG,
RUANG PERTEMUAN
BUDAYA
Sejak berabad lalu, Tangerang adalah tempat orang datang dan tinggal: pedagang Tionghoa di tepi Cisadane, keluarga Betawi di kampung-kampung, perantau Sunda dan Jawa yang membawa gamelan dan angklung. Benteng Culture Festival mengumpulkan semuanya di satu halaman kota selama tiga hari.
Tahun ini temanya “My Culture, My Pride”, bukan sekadar pertunjukan, melainkan ajakan untuk ikut menari, membatik, dan bercerita.
TIGA TUJUAN KEGIATAN
Melestarikan Budaya
Angklung, batik Tangerang, tari kreasi, dan barongsai tampil di panggung yang sama, terekam untuk terus diwariskan ke edisi berikutnya.
Generasi Muda
Enam kanal lomba untuk pelajar dan komunitas, plus kelas singkat membatik dan angklung setiap sore di Zona Warisan.
Ekonomi Kreatif
120 tenant UMKM kuliner dan kriya, dihubungkan ke paspor digital agar pengunjung merata menjelajah semua zona.
“Anak saya baru pertama pegang canting di kelas membatik, sekarang minta ikut lomba tahun depan.”
“Regu kami bawa ondel-ondel dan barongsai sekaligus. Ternyata itu yang paling ramai disorak.”
“Tiga hari itu setara sebulan jualan. Sistem cap stempelnya bikin pengunjung mampir ke zona kami.”

